Reaksi Hipersensitiv
I. 1. Reaksi Hipersensitivitas Tipe I
Reaksi
hipersensitivitas tipe I atau anafilaksis atau alergi yang timbul segera
sesudah badan terpajan dengan alergen. Semula diduga bahwa tipe I ini berfungsi
untuk melindungi badan terhadap parasit tertentu terutama cacing. Istilah
alergi pertama kali diperkenalkan oleh Von Pirquet pada tahun 1906, yang
diartikan sebagai reaksi pejamu yang berubah. Pada reaksi ini allergen yang
masuk ke dalam tubuh akan menimbulkan respon imun dengan dibentuknya Ig E.
Urutan
kejadian reaksi tipe I adalah sebagai berikut :
1. Fase Sensitasi
Waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan IgE sampai diikatnya oleh
reseptor spesifik pada permukaan sel mastosit dan basofil.
2. Fase Aktivasi
Waktu selama terjadi pajanan ulang dengan antigen yang spesifik, mastosit
melepas isinya yang berisikan granul yang menimbulkan reaksi.
3. Fase Efektor
Waktu terjadi respon yang kompleks (anafilaksis) sebagai efek bahan-
bahan yang dilepas mastosit dengan aktivasi farmakologik.
IgE yang sudah dibentuk, biasanya dalam jumlah sedikit, segera diikat
oleh mastosit/basofil. IgE yang sudah ada permukaan mastosit akan menetap untuk
beberapa minggu. Sensitasi dapat juga terjadi secara pasif apabila serum
(darah) orang yang alergik dimasukkan ke dalam kulit atau sirkulasi orang
normal.
Reaksi yang tejadi dapat berupa wheal and flare yaitu eritem (kemerahan
oleh karena dilatasi vaskular) dan edem (pembengkakan yang disebabkan oleh
masuknya serum ke dalam jaringan). Puncak reaksi terjadi selama 10-15 menit.
Dalam fase aktivasi terjaadi perubahan dalam membrane sel seabagai akibat
metilasi fosfolipid yang diikuti oleh influks Ca2+. Dalam fase ini
energi dilepaskan akibat glikolisis dan beberapa enzim diaktifkan dan
menggerakkan granul-granul ke permukaan sel. Kadar cAMP dan cGMP dalam sel
berpengaruh terhadap degranulasi. Peningkatan cAMP akan
mengahambat sedang peningkatan cGMP membantu degranulasi. Pelepasan granul itu
adalah fisiologik dan tidak menimbulkan lisis atau matinya sel. Sesudah
degranulasi, sel memulai fungsinya lagi.
Penyakit-penyakit yang ditimbulkan segera sesudah tubuh terpajan dengan
allergen biasanya adalah asma bronchial, rintis, urtikaria (kaligata), dan
dermatitis atopi.
Reaksi antara IgE pada permukaan sel mastosit dan antigen menimbulkan
influks Ca2+ yang menimbulkan degranulasi sel dan aktivasi
fosfolipase A2. Degranulasi sel mastosit dapat pula terjadi atas pengaruh
anakfilaktosin, C3a dan C5a. Disamping histamine, mediator lain seperti
prostaglandin (PG) dan leukotrin (SRA-A) yang dihasilkan dari metabolisme asam
arakidonat atas pengaruh fosfolipase A2. Oleh karena itu mediator-mediator itu
disebut newly generated.
II. 2.
Reaksi Hipersensitivitas Tipe II
Reaksi
hipersensitivitas tipe II atau Sitotoksis terjadi karena dibentuknya antibodi
jenis IgG atau IgM terhadap antigen yang merupakan bagian sel pejamu. Reaksi
ini dimulai dengan antibodi yang bereaksi baik dengan komponen antigenik sel,
elemen jaringan atau antigen atau hapten yang sudah ada atau tergabung dengan
elemen jaringan tersebut. Kemudian kerusakan diakibatkan adanya aktivasi
komplemen atau sel mononuklear. Mungkin terjadi sekresi atau stimulasi dari
suatu alat misalnya thyroid. Contoh reaksi tipe II ini adalah distruksi sel
darah merah akibat reaksi transfusi, penyakit anemia hemolitik, reaksi obat dan
kerusakan jaringan pada penyakit autoimun. Mekanisme reaksinya adalah sebagai
berikut :
1. Fagositosis sel melalui proses apsonik adherence
atau immune adherence
2. Reaksi sitotoksis ekstraseluler oleh sel K (Killer
cell) yang mempunyai reseptor untuk Fc
3. Lisis
sel karena bekerjanya seluruh sistem komplemen
II.2.1 Reaksi Transfusi
Menurut system ABO, sel darah manusia
dibagi menjadi 4 golongan yaitu A, B, AB dan O. Selanjutnya diketahui bahwa
golongan A mengandung antibodi (anti B berupa Ig M) yang mengaglutinasikan
eritrosit golongan B, darah golongan B mengandung antibodi (anti A berupa Ig M)
yang mengaglutinasikan eritrosit golongan A, golongan darh AB tidak mengandung
antibodi terhadap antigen tersebut dan golongan darh O mengandung antibodi (Ig
M dan Ig G) yang dapat mengaglutinasikan eritrosit golongan A dan B. Antibodi
tersebut disebut isohemaglutinin.
Aglutinin tersebut timbul secara alamiah
tanpa sensitasi atau imunisasi. Bentuk yang paling sederhana dari reaksi sitotoksik
terlihat pada ketidakcocokan transfusi darah golongan ABO. Ada 3 jenis reaksi
transfusi yaitu reaksi hemolitik yang paling berat, reaksi panas, dan reaksi
alergi seperti urtikaria, syok, dan asma. Kerusakan ginjal dapat pula terjadi
akibat membrane sel yang menimbun dan efek toksik dan kompleks haem yang lepas.
II.2.2 Reaksi Antigen Rhesus
Ada
sejenis reaksi transfusi yaitu reaksi inkompabilitas Rh yang terlihat pada bayi
baru lahir dari orang tuanya denga Rh yang inkompatibel (ayah Rh+ dan ibu Rh-).
Jika anak yang dikandung oleh ibu Rh- menpunyai darah Rh+ maka anak akan
melepas sebagian eritrositnya ke dalam sirkulasi ibu waktu partus. Hanya ibu
yang sudah disensitasi yang akan membentuk anti Rh (IgG) dan hal ini akan
membahayakan anak yang dikandung kemudian. Hal ini karena IgG dapat melewati
plasenta. IgG yang diikat antigen Rh pada permukaan eritrosit fetus biasanya
belum menimbulkan aglutinasi atau lisis. Tetapi sel yang ditutupi Ig tersebut
mudah dirusak akibat interaksi dengan reseptor Fc pada fagosit. Akhirnya
terjadi kerusakan sel darah merah fetus dan bayi lahir kuning, Transfusi untuk
mengganti darah sering diperlukan dalam usaha menyelamatkan bayi.
II.2.3
Anemia Hemolitik autoimun
Akibat suatu
infeksi dan sebab yang belum diketahui, beberapa orang membentuk Ig terhadap
sel darah merah sendiri. Melalui fagositosis via reseptor untuk Fc dan C3b,
terjadi anemia yang progresif. Antibodi yang dibentuk berupa aglutinin panas
atau dingin, tergantung dari suhu yang dibutuhkan untuk aglutinasi.
II.2.4
Reaksi Obat
Obat dapat
bertindak sebagai hapten dan diikat pada permukaan eritrosit yang menimbulkan
pembentukan Ig dan kerusakan sitotoksik. Sedormid dapat mengikat trombosit dan
Ig yang dibentuk terhadapnya akan menghancurkan trombosit dan menimbulkan purpura.
Chloramfenicol dapat mengikat sel darah putih, phenacetin dan chloropromazin
mengikat sel darah merah.
II.2.5
Sindrom Goodpasture
Pada sindrom
ini dalam serum ditemukan antibodi yang bereaksi dengan membran basal
glomerulus dan paru. Antibodi tersebut mengendap di ginjal dan paru yang
menunjukkan endapan linier yang terlihat pada imunoflouresen.
Ciri sindrom ini glomerulonefritis proliferatif yang difus dan peredaran
paru. Perjalanannya sering fatal. Dalam penanggulangannya telah dicoba dengan
pemberian steroid, imunosupresan, plasmaferisis, nefektomi yang disusul dengan
transplantasi. Jadi, sindrom ini merupakan penyakit auroimun yang membentuk
antibodi terhadap membrane basal. Sindrom ini sering ditemukan setelah
mengalami infeksi streptococ.
II.2.6
Myasthenia gravis
Penyakit
dengan kelemahan otot yang disebabkan gangguan transmisi neuromuskuler,
sebagian disebabkan oleh autoantibodi terhadap reseptor astilkoli.
II.2.7 Pempigus
Penyakit
autoimun yang disertai antibodi tehadap desmosom diantara keratinosit yang
menimbulkan pelepasan epidermis dan gelembung-gelembung.
II.3
Reaksi Hipersensitivitas Tipe III
Reaksi tipe
III disebut juga reaksi kompleks imun adalah reaksi yang terjadi bila kompleks
antigen-antibodi ditemukan dalam jaringan atau sirkulasi/ dinding pembuluh
darah dan mengaktifkan komplemen. Antibodi yang bisa digunakan sejenis IgM atau
IgG sedangkan komplemen yang diaktifkan kemudian melepas faktor kemotatik
makrofag. Faktor kemotatik yang ini akan menyebabkan pemasukan
leukosit-leukosit PMN yang mulai memfagositosis kompleks-kompleks imun. Reaksi
ini juga mengakibatkan pelepasan zat-zat ekstraselular yang berasal dari
granula-granula polimorf, yakni berupa enzim proteolitik, dan enzim-enzim
pembentukan kinin.
Antigen pada
reaksi tipe III ini dapat berasal dari infeksi kuman patogen yang persisten
(malaria), bahan yang terhirup (spora jamur yang menimbulkan alveolitis alergik
ekstrinsik) atau dari jaringan sendiri (penyakit autoimun). Infeksi dapat
disertai dengan antigen dalam jumlah berlebihan, tetapi tanpa adanya respons
antibodi yang efektif.
Penyebab
reaksi hipersensitivitas tipe III yang sering terjadi, terdiri dari :
1. Infeksi persisten
Pada infeksi ini terdapat antigen mikroba, dimana tempat kompleks
mengendap adalah organ yang diinfektif dan ginjal.
2. Autoimunitas
Pada reaksi ini terdapat antigen sendiri, dimana tempat kompleks
mengendap adalah ginjal, sendi, dan pembuluh darah.
3. Ekstrinsik
Pada reaksi ini, antigen yang berpengaruh adalah antigen lingkungan.
Dimana tempat kompleks yang mengendap adalah paru.
Reaksi hipersensitivitas tipe III sebagai bentuk penggabungan bentuk
antigen dan antibodi dalam tubuh akan mengakibatkan reaksi peradangan akut.
Jika komplemen diikat, anafilaktoksin akan dilepaskan sebagai hasil pemecahan
C3 dan C5 dan ini akan menyebabkan pelepasan histamin serta perubahan
permeabilitas pembuluh darah. Faktor-faktor kemotaktik juga dihasilkan, ini
akan menyebabkan pemasukan leukosit-leukosit PMN yang mulai menfagositosis
kompleks-kompleks imun. Deretan reaksi diatas juga mengakibatkan pelepasan
zat-zat ekstraselular yang berasal dari granula-granula polimorf yakni berupa
enzim-enzim proteolitik (termasuk kolagenase dan protein-protein netral),
enzim-enzim pembentukan kinin protein-protein polikationik yang meningkatkan
permeabilitas pembuluh darah melalui mekanisme mastolitik atau histamin bebas.
Hal ini akan merusak jaringan setempat dan memperkuat reaksi peradangan yang
ditimbulkan.
Kerusakan lebih lanjut dapat disebabkan oleh reaksi lisis dimana C567
yang telah diaktifkan menyerang sel-sel disekitarnya dan mengikat C89. Dalam
keadaan tertentu, trombosit akan menggumpal dengan dua konsekuensi, yaitu
menjadi sumber yang menyediakan zat-zat amina vasoaktif dan juga membentuk
mikrotrombi yang dapat mengakibatkan iskemia setempat.
Kompleks antigen- antibodi dapat mengaktifkan beberapa sistem imun
sebagai berikut :
1. Aktivasi komplemen
a. Melepaskan anafilaktoksin (C3a,C5a) yang merangsang
mastosit untuk melepas histamine
b. Melepas faktor kemotaktik (C3a,C5a,C5-6-7) mengerahkan
polimorf yang melepas enzim proteolitik dan enzim polikationik
2.
Menimbulkan agregasi trombosit
a.
Menimbulkan mikrotrombi
b. Melepas
amin vasoaktif
3.
Mengaktifkan makrofag
Melepas IL-1 dan produk
lainnya
Pada reaksi hipersensitivitas tipe III
terdaapt dua bentuk reaksi, yaitu :
1. Reaksi
Arthus
Maurice
Arthus menemukan bahwa penyuntikan larutan antigen secara intradermal pada
kelinci yang telah dibuat hiperimun dengan antibodi konsentrasi tinggi akan
menghasilkan reaksi eritema dan edema, yang mencapai puncak setelah 3-8 jam dan
kemudian menghilang. Lesi bercirikan adanya peningkatan infiltrasi
leukosit-leukosit PMN. Hal ini disebut fenomena Arthus yang merupakan bentuk
reaksi kompleks imun. Reaksi Arthus di dinding bronkus atau alveoli diduga dapat
menimbulkan reaksi asma lambat yang terjadi 7-8 jam setelah inhalasi antigen.
Reaksi
Arthus ini biasanya memerlukan antibodi dan antigen dalam jumlah besar. Antigen
yang disuntikkan akan memebentuk kompleks yang tidak larut dalam sirkulasi atau
mengendap pada dinding pembuluh darah. Bila agregat besar, komplemen mulai
diaktifkan. C3a dan C5a yang terbentuk meningkatkan permeabilitas pembuluh
darah menjadi edema. Komponen lain yang bereperan adalah fakor kemotaktik.
Neutrofil dan trombosit mulai menimbun di tempat reaksi dan menimbulkan stasisi
dan obstruksi total aliran darah. Neutrofil yang diaktifkan memakan kompleks
imun dan bersama dengan trombosit yang digumpalkan melepas berbagai bahan
seperti protease, kolagenase, dan bahan vasoaktif.
2. Reaksi serum sickness
Istilah ini berasal dari pirquet dan Schick yang
menemukannya sebagai konsekuensi imunisasi pasif pada pengobatan infeksi
seperti difteri dan tetanus dengan antiserum asal kuda. Penyuntikan serum asing
dalam jumlah besar digunakan untuk bermacam-macam tujuan pengobatan. Hal ini
biasanya akan menimbulkan keadaan yang dikenal sebagai penyakit serum kira-kira
8 hari setelah penyuntikan. Pada keadaan ini dapat dijumpai kenaikan suhu,
pembengkakan kelenjar-kelenjar limpa, ruam urtika yang tersebar luas,
sendi-sendi yang bengkak dan sakit yang dihubungkan dengan konsentrasi
komplemen serum rendah, dan mungkin juga ditemui albuminaria sementara.
Pada berbagai infeksi, atas dasar yang belum jelas, dibentuk Ig yang
kemudian memberikan reaksi silang dengan beberapa bahan jaringan normal. Hal
ini kemudian yang menimbulkan reaksi disertai dengan komplek imun. Contoh dari
reaksi ini adalah :
. Demam reuma
Infeksi streptococ golongan A dapat
menimbulkan inflamasi dan kerusakan jantung, sendi, dan ginjal. Berbagai
antigen dalam membran streptococ bereaksi silang dengan antigen dari
otot jantung, tulang rawan, dan membran glomerulus. Diduga antibodi terhadap streptococ
mengikat antigen jaringan normal tersebut dan mengakibatkan inflamasi.
2. Artritis rheumatoid
Kompleks yang dibentuk dari ikatan antara faktor
rheumatoid (anti IgG yang berupa IgM) dengan Fc dari IgG akan menimbulkan
inflamasi di sendi dan kerusakan yang khas.
3. Infeksi
lain
Pada
beberapa penyakit infeksi lain seperti malaria dan lepra, antigen mengikat Ig
dan membentuk kompleks imun yang ditimbun di beberapa tempat.
4. Farmer’s
lung
Pada orang
yang rentan, pajanan terhadap jerami yang mengandung banyak spora actinomycete
termofilik dapat menimbulkan gangguan pernafasan pneumonitis yang terjadi 6-8
jam setelah pajanan. Pada tubuh orang tersebut, diproduksi banyak IgG yang
spesifik terhadap actynomycete termofilik dan membentuk kompleks
antigen-antibodi yang mengendap di paru-paru.
II.4 Reaksi Hipersensitivitas Tipe IV
Reaksi tipe IV disebut juga reaksi
hipersensitivitas lambat, cell mediatif immunity (CMI), Delayed Type
Hypersensitivity (DTH) atau reaksi tuberculin yang timbul lebih dari 24 jam
setelah tubuh terpajan dengan antigen. Reaksi terjadi karena sel T yang sudah
disensitasi tersebut, sel T dengan reseptor spesifik pada permukaannya akan
dirangsang oleh antigen yang sesuai dan mengeluarkan zat disebut limfokin.
Limfosit yang terangsang mengalami transformasi menjadi besar seperti limfoblas
yang mampu merusak sel target yang mempunyai reseptor di permukaannya sehingga
dapat terjadi kerusakan jaringan.
Antigen yang
dapat mencetuskan reaksi tersebut dapat berupa jaringan asing (seperti reaksi
allograft), mikroorganisme intra seluler (virus, mikrobakteri, dll). Protein
atau bahan kimia yang dapat menembus kulit dan bergabung dengan protein yang
berfungsi sebagai carrier. Selain itu, bagian dari sel limfosit T dapat
dirangsang oleh antigen yang terdapat di permukaan sel di dalam tubuh yang
telah berubah karena adanya infeksi oleh kuman atau virus, sehingga sel
limfosit ini menjadi ganas terhadap sel yang mengandung antigen itu (sel
target). Kerusakan sel atau jaringan yang disebabkan oleh mekanisme ini
ditemukan pada beberapa penyakit infeksi kuman (tuberculosis, lepra), infeksi
oleh virus (variola, morbilli, herpes), infeksi jamur (candidiasis,
histoplasmosis) dan infeksi oleh protozoa (leishmaniasis, schitosomiasis).
Antigen ini mungkin berhubungan atau telah diolah oleh sel makrofag dan
bereaksi dengan reseptor di permukaan sel limfosit yang pernah berkontak dengan
antigen yang sama dan beredar sebagai sel memori. Setelah berkontak dengan
antigen, sel itu berubah menjadi blast cell dan mengalami mitosis sambil
mengeluarkan zat-zat sebagai berikut:
. Macrophage inhibition factor (MIF)
Zat ini dapat mengalami migrasi sel makrofag in vitro serta mengubah
morfologi dan sifat sel itu menjadi sangat aktif. Zat ayng menyebabkan
perubahan ini adalah Macrophage Activation Factor (MAF), sehingga sel
makrofag tersebut menjadi lebih efektif untuk mematikan kuman yang telah
difagositosis olehnya. Hal yang serupa terjadi pada sel tumor dimana sel
makrofag dirangsang oleh zat yang dinamakan Spesific Macrophage Arming
Factor (SMAF).
b. Monocyte chemotactic factor
Sel monosit akan bergerak ke arah dimana terdapat konsentrasi tinggi dari
zat itu.
c. Skin reactive factor
Meninggikan permeabilitas pembuluh darah yang menyebabkan eksudasi sel
leukosit.
d. Faktor lain
Terdapat pula faktor yang merangsang mitosis pada sel limfosit netral
yang bersifat sitotoksik terhadap beberapa sel.
Untuk tipe IV
diperlukan masa sensitasi selama 1 – 2 minggu, yaitu untuk meningkatkan jumlah
klon sel T yang spesifik untuk antigen tertentu. Antigen tersebut harus dipresentasikan terlebih
dahulu oleh APC. Kontak yang berulang akan menimbulkan rentetan reaksi yang
menimbulkan kelainan khas dari CMI.
II.4.1 Gambaran Histologi
Hipersensitivitas Tipe IV tidak dapat
dipindahkan ke orang lain dengan menyuntikkan serum yang mengandung antibodi.
Yang diperlukan untuk pemindahan pasif adalah sel limfosit.
Suntikan intradermal suatu antigen kepada
binatang atau orang yang sudah disensitasi tidak menimbulkan reaksi sebelum 18
– 24 jam. Sekitar 18 –
24 jam, mulai terlihat eritem dan indurasi (paling jelas terlihat 24 – 48 jam).
Indurasi ini dapat dibedakan dari
edem (yang berisikan cairan) dan tidak menunjukkan pitting pada tekanan. Bila
reaksi tersebut berat dapat terjadi nekrosis.
Biopsi menunjukkan adanya infiltrasi sel
terutama sel mononuklier – makrofag dengan beberapa limfosit. Kemudian terlihat
gambaran yang lebih kompleks, sel B mulai nampak dan terbentuk glanuloma
(akumulasi makrofag). Indurasi yang keras disebabkan oleh penimbunan fibrin.
II.4.2 Mekanisme CMI
Mula-mula antigen dipresentasikan oleh APC
tertentu kepada sel T4. IL-1 yang dilepas sel APC akan mengaktifkan
sel T. Sel T kemudian
II.4.3 Konsekuensi dari CMI
Seperti yang telah diketahui, banyak
fungsi CMI dilakukan oleh makrofag yang diaktifkan. Pada keadaan yang paling
menguntungkan CMI
II.4.4 Mekanisme-mekanisme Efektor
a. Faktor
penghambat migrasi makrofag (Macrophage Migration Inhibition Factor = MIF)
Migrasi
aktif makrofaga-makrofaga dari suatu pembuluh kapiler dihambat bila MIF
terdapat cairan biakan jaringan. Sangat mungkin pada tingkat ini antigen atau
ada atau tidak, tetapi antigen spesifik terhadap MIF juga ditemukan
meningkatkan kemungkinan spekulasi yang diijinkan, ini merupakan reseptor sel-T
spesifik yang dilepaskan akibat rangsangan antigen dan kemudian dapat bekerja
sama pada induksi sel- B. Agaknya situasi yang serupa timbul jika sel-sel- T
bereaksi dengan sel tumor pada sel-sel-T yang telah peka dan melepaskan suatu
faktor (faktor pada pembentukan makrofaga spesifik = specific macrophage arming
factor = SMAF) yang dapat menyokong makrofaga dengan daya seleksi pembunuh tumor,
masih belum diketahui. Selain itu, limfokin tertentu, faktor pengaktif
makrofaga (macrophage activating factor = MAF) menghasilkan perubahan morfologi
yang jelas pada makrofaga-makrofaga dan mengakibatkan metabolisme yang sangat
aktif (angry), lebih giat mematikan dan mencernakan bakteri.
b. Faktor
Kemotaktik Monosit (Monocyte Chemotactic Factor = MCF)
Monosit-monosit
akan bergerak melewati selaput-selaput Millipore ke arah faktor dengan
konsentrasi yang lebih tinggi.
c. Faktor
penyebab reaksi kulit (Skin Reactive Factor)
Ini akan
memulai eksudasi sel-sel jika disuntikkan dan dapat juga meningkatkan
permeabilitas kapiler.
d. Lain-lain aktivitas biologic (Other biological
activities)
Faktor-faktor juga akan terlihat akan merangsang
mitosis pada limfosit-limfosit bebas (berhubungan dengan kerja sama sel-T) dan
bersifat sitotoksik, atau sedikitnya menimbulkan hambatan atau biakan sel
tertentu. Keadaan sebelumnya menunjukkan adanya penggumpalan trombosit dan
adanya interferon (suatu perangsangan produksi interferon oleh makrofaga).
II.4.5
Sel-sel T-Sitotoksik
Suatu cangkokan dari suatu anggota species yang sama dengan genetic
berbeda (cangkokan alogenik) dapat menimbulkan satu populasi sel-sel-T pembunuh
yang bersifat sitotoksik untuk sel-sel target yang mengandung antigen-antigen
donor yang sangat tidak sesuai secara histologik. Tahap pertama dalam interaksi
ini yang dapat diikuti invitro adalah persenyawaan antara efektor dengan sel
target melalui kemampuan mengenal antigen-antigen cangkokan oleh reseptor-reseptor
permukaan, tahap ini lepas dari pengaruh C++ dan peka terhadap
sitokalasin B. Dalam beberapa menit, suatu perubahan timbul pada sel target
yang mengarah pada sitolisa yang menetap, tahap ini dipengaruhi C++
dan tidak peka terhadap sitokalasin B. Jadi dengan cara menggabungkan mereka
tanpa C++ kemudian membiarkan proses sitolisa terjadi dengan
menambahkan C++ dan sitokalasin (yang menghambat pergerakan sel dan
mencegah ikatan dengan sel-sel target selanjutnya), secara teori setiap sel
target hanya dapat menghancurkan satu sel target. Sedemikian besar jumlah sel
yang ikut pada spesifisitas histokompabilitas utama memberikan kesan dan secara
tidak langsung menyatakan bahwa ada satu hubungan khusus antara sel-T dengan
antigen-antigen tertentu. Dalam hubungan ini harus diingat bahwa penyerangan
yang efektif hanya terjadi bila sel-sel T telah peka terhadap antigen-antigen
histokompabilitas utama atau suatu determinan (penentu) misalnya virus yang
dikenal dalam hubungan dengan antigen-antigen ini
I.4.6
Hubungan dengan Produksi Antibodi
Dulu
seringkali sensisitivitas lambat dianggap sebagai suatu tahap penting dalam
proses pembentukan antibodi. Sekarang kita ketahui bahwa hal tersebut tidaklah
betul-betul demikian. Polisakarida pneumokokus pada tikus merangsang pembentukan
antibodi tetapi bukan CMI. Penyuntikan antigen-antigen tertentu dalam bentuk
larutan diikuti antigen dalam adjuvan Freund secara efektif akan sedikit lebih
lebih menekan kekebalan selular bila dibandingkan dengan penekanan terhadap
kekebalan humoralm (penyimpangan kekebalan).
Terakhir,
orang-orang yang tidak punya sel-T tetap dapat membentuk antibodi meskipun
kadang-kadang kurang efektif. Jelas ada hubungannya, tetapi walaupun demikian,
dalam kerjasama antara sel-B dan sel-T, dan jika ada sebagian sel-T lain dapat
member reaksi CMI dan penolong-T terangsang oleh antigen yang diberikan maka
dengan demikian tidak akan diperlukan lagi produksi antibodi melalui sel-T
dalam hubungannya dengan reaksi CMI tadi. Jadi penemuan mengenai
hipersensitivitas perantara sel pada penderita-penderita alergi atopik mungkin
menggambarkan fakta bahwa antibodi IgE terhadap serbuk sari tumbuh-tumbuhan dan
lain-lain alergen hanya akan terbentuk jika jumlah sel-T yang sesuai dan peka
mencukupi untuk kerja sama. Peningkatan produksi antibodi terhadap
antigen-antigen protein yang tercampur dengan adjuvan Freund lengkap sebagian
disebabkan oleh efek antigen yang terkumpul, tetapi juga sebagai akibat dari
rangsangan sel-T yang kuat yang akan menaikkan baik kerjasama sel-T dan perkembangan
hipersensitivitas tipe lambat.
II.4.7
Jenis-jenis Reaksi Hipersensitivitas tipe IV
Ada 4 jenis reaksi
hipersensitivitas tipe IV, yaitu:
1. Hipersensitivitas Jones Mole (Reaksi JM)
Reaksi JM ditandai oleh adanya infiltrasi basofil di bawah epidermis. Hal
tersebut biasanya ditimbulkan oleh antigen yang larut dan disebabkan oleh
limfosit yang peka terhadap siklofosfamid.
Reaksi JM atau Cutaneous Basophil Hypersensitivity (CBH)
merupakan bentuk CMI yang tidak biasa dan telah ditemukan pada manusia sesudah
suntikan antigen intradermal yang berulang-ulang. Reaksi biasanya terjadi
sesudah 24 jam tetapi hanya berupa eritem tanpa indurasi yang merupakan ciri
dari CMI. Eritem itu terdiri atas infiltrasi sel basofil. Mekanisme sebenarnya
masih belum diketahui.
Kelinci yang digigit tungau menunjukkan reaksi CBH yang berat di tempat
tungau menempel. Basofil kemudian melepas mediator yang farmakologik aktif dari
granulanya yang dapat mematikan dan melepaskan tungau tersebut.
Basofil telah ditemukan pula pada dermatitis kontak yang disebabkan
allergen seperti poison ivy penolakan ginjal dan beberapa bentuk
konjungtivitis. Hal-hal tersebut di atas menunjukkan bahwa basofil mempunyai
peranan dalam penyakit hipersensitivitas.
2. Hipersensitivitas Kontak dan dermatitis kontak
Dermatitis kontak dikenal dalam klinik sebagai dermatitis yang timbul
pada titik tempat kontak dengan alergen. Reaksi maksimal terjadi setelah 48 jam
dan merupakan reaksi epidermal. Sel Langerhans sebagai Antigen Presenting Cell
(APC) memegang peranan pada reaksi ini.
Innokulasi (penyuntikkan) melalui kulit, cenderung untuk merangsang
perkembangan reaksi sel-T dan reaksi-reaksi tipe lambat yang sering kali
disebabkan oleh benda-benda asing yang dapat mengadakan ikatan dengan
unsur-unsur tubuh untuk membentuk antigen-antigen baru. Oleh karena itu,
hipersensitivitas kontak dapat terjadi pada orang-orang yang menjadi peka
karena pekerjaan yang berhubungan dengan bahan-bahan kimia seperti prikil
klorida dan kromat.
Kontak dengan antigen mengakibatkan ekspansi klon sel-T yang mampu
mengenal antigen tersebut dan kontak ulang menimbulkan respon seperti yang
terjadi pada CMI. Kelainan lain yang terjadi ialah pelepasan sel epitel
(spongiosis) menimbulkan infiltrasi sel efektor. Hal ini menimbulkan dikeluarkannya
cairan dan terbentuknya gelembung.
3.Reaksi Tuberkulin
Reaksi tuberculin adalah reaksi dermal yang berbeda dengan reaksi
dermatitis kontak dan terjadi 20 jam setelah terpajan dengan antigen. Reaksi
terdiri atas infiltrasi sel mononuklier (50% limfosit dan sisanya monosit).
Setelah 48 jam timbul infiltrasi limfosit dalam jumlah besar di sekitar
pembuluh darah yang merusak hubungan serat-serat kolagen kulit. Dalam beberapa
hal antigen dimusnahkan dengan cepat sehinga menimbulkan kerusakan. Dilain hal
terjadi hal-hal seperti yang terlihat sebagai konsekuensi CMI.
Kelainan kulit yang khas pada penyakit cacar, campak, dan herpes
ditimbulkan oleh karena CMI terhadap virus ditambah dengan kerusakan sel yang
diinfektif virus oleh sel-Tc.
4. Reaksi
Granuloma
Menyusul respon akut terjadi
influks monosit, neutrofil dan limfosit ke jaringan. Bila keadaan menjadi
terkontrol, neutrofil tidak dikerahkan lagi berdegenerasi. Selanjutnya
dikerahkan sel mononuklier. Pada stadium ini, dikerahkan monosit, makrofak,
limfosit dan sel plasma yang memberikan gambaran patologik dari inflamasi
kronik.
Dalam inflamasi kronik ini,
monosit dan makrofak mempunyai 3 peranan penting sebagai berikut:
1. Menelan
dan mencerna mikroba, debris seluler dan neutrofil yang berdegenerasi.
2. Modulasi
respon imun dan fungsi sel-T melalui presentasi antigen dan sekresi sitokin.
3.
Memperbaiki kerusakan jaringan dan fungsi sel inflamasi melalui sekresi
sitokin.
Gambaran morfologis dari
respon tersebut dapat berupa pembentukan granuloma (agregat fagosit mononuklier
yang dikelilingi limfosit dan sel plasma). Fagosit terdiri atas monosit yang
baru dikerahkan serta sedikit dari makrofag yang sudah ada dalam jaringan.
Reaksi granulomata merupakan
reaksi tipe IV yang paling penting karena menimbulkan banyak efek patologis.
Hal tersebut terjadi karena adanya antigen yang persisten di dalam makrofag
yang biasanya berupa mikroorganisme yang tidak dapat dihancurkan atau kompleks
imun yang menetap, misalnya pada alveolitis alergik.
Reaksi granuloma terjadi
sebagai usaha badan untuk membatasi antigen yang persisten dalam tubuh,
sedangkan reaksi tuberkolin merupakan respon imun seluler yang terbatas. Kedua
reaksi tersebut dapat terjadi akibat sensitasi oleh antigen mikroorganisme yang
sama, misalnya M. Tuberculosis dan M. Leprae. Granuloma juga
terjadi pada hipersensitivitas terhadap zarkonium, sarkoidosis dan rangsangan
bahan non-antigenik seperti bedak (talkum). Dalam hal-hal tersebut makrofag
tidak dapat memusnahkan benda anorganik.
Granuloma non-immunologic dapat dibedakan dari yang immunologic, karena
yang pertama tidak mengandung limfosit. Dalam reaksi granuloma ditemukan sel
epiteloid yang diduga berasal dari sel-sel makrofag dan sel datia Langhans
(jangan dikaburkan dengan sel Langerhans yang telah dibicarakan).
Granuloma immunologic ditandai dengan inti yang terdiri atas sel
epiteloid dan makrofag. Disamping itu dapat ditemukan fibrosis atau timbunan
serat kolagen yang terjadi akibat proliferasi fibroblast dan peningkatan
sintesis kolagen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar